Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Wednesday, October 1, 2014

Ketika sebuah karya kian nyata
Bergelimang bersih di hati
Menenggelamkan serpihan emosi
Bahkan payahku tak lagi berarti

Tapi apa rasanya
Jika sebuah karya jatuh tiba-tiba
Menjadi tak punya harga
Tak bermakna

Berkobarlah caci maki
Mengerubungi jiwaku yang kian sepi
Masuk lewat pori-pori sampai ke hati
Menyulapnya menjadi organ yang berfungsi
bahkan tak terdefenisi

Upayaku benar meletihkan
Tapi jika nyatanya seperti ini
Lebih baik aku tak berkarya
Meredam infeksi yang baru terjadi
Sebab aku tak dihargai

Puisi : Ketika Tak Dihargai

Ketika sebuah karya kian nyata
Bergelimang bersih di hati
Menenggelamkan serpihan emosi
Bahkan payahku tak lagi berarti

Tapi apa rasanya
Jika sebuah karya jatuh tiba-tiba
Menjadi tak punya harga
Tak bermakna

Berkobarlah caci maki
Mengerubungi jiwaku yang kian sepi
Masuk lewat pori-pori sampai ke hati
Menyulapnya menjadi organ yang berfungsi
bahkan tak terdefenisi

Upayaku benar meletihkan
Tapi jika nyatanya seperti ini
Lebih baik aku tak berkarya
Meredam infeksi yang baru terjadi
Sebab aku tak dihargai

Thursday, August 28, 2014

Kawan Telah Pergi
Oleh: Rafi Ferliadi

Pergi saja..
Kau tak pantas bernyawa
Dengan segala jumawa
Serta aga yang kau punya

Kawan telah pergi
Dengan hatiku yang teriris
Meninggalkan buih-buih duri
Sampai hati menangis

Aku seperti ampas
Sebab ketulusanku kau rampas
Aku seperti kapas
Yang telah kau hempas

Kawan, sekarang kau sudah berdiri
Dengan tegak, kemudian lari
Menggapai fana’nya negeri
Ditemani takaburmu yang tinggi

Sedang aku masih terbaring
Bersama luka lama yang belum mengering
Menyelami masa mula-mula
Yang kini tinggal cerita


                                                                                                Dalam lautan kelabu, 28-08-2014

Puisi : Kawan Telah Pergi

Kawan Telah Pergi
Oleh: Rafi Ferliadi

Pergi saja..
Kau tak pantas bernyawa
Dengan segala jumawa
Serta aga yang kau punya

Kawan telah pergi
Dengan hatiku yang teriris
Meninggalkan buih-buih duri
Sampai hati menangis

Aku seperti ampas
Sebab ketulusanku kau rampas
Aku seperti kapas
Yang telah kau hempas

Kawan, sekarang kau sudah berdiri
Dengan tegak, kemudian lari
Menggapai fana’nya negeri
Ditemani takaburmu yang tinggi

Sedang aku masih terbaring
Bersama luka lama yang belum mengering
Menyelami masa mula-mula
Yang kini tinggal cerita


                                                                                                Dalam lautan kelabu, 28-08-2014
This entry was posted in :

Saturday, July 5, 2014

Ini Malam Kelam

Ini malam kelam
Malam yang suram
Hanya ditemani sang rembulan
Serta sejumput kilauan kartika

Ini malam kelam
Sebab kirana rumahan padam
Tiada lampu yang berpijar
Hanya diganti sebatang lilin
Ataupun lampu corong berasap

Aku tak bisa beraksi
Sebab kedua mata terasa mati
Kenan tidurpun tak sudi
Sebab gidikan yang menghantui

Ini malam kelam
Ku mendengar beberapa bahana
Tapi tak jelas sumbernya
Sebab tak kasat mata

Ini malam kelam
Wisma – wisma terlihat silam
Ku hanya bisa menyuarakan
Berjalanpun harus meraba

Semoga saja
Malam kelam segera sudah
Hingga kulihat lagi malam yang indah

Indahnya kilau lampu bercahaya

Puisi : Ini Malam Kelam

Ini Malam Kelam

Ini malam kelam
Malam yang suram
Hanya ditemani sang rembulan
Serta sejumput kilauan kartika

Ini malam kelam
Sebab kirana rumahan padam
Tiada lampu yang berpijar
Hanya diganti sebatang lilin
Ataupun lampu corong berasap

Aku tak bisa beraksi
Sebab kedua mata terasa mati
Kenan tidurpun tak sudi
Sebab gidikan yang menghantui

Ini malam kelam
Ku mendengar beberapa bahana
Tapi tak jelas sumbernya
Sebab tak kasat mata

Ini malam kelam
Wisma – wisma terlihat silam
Ku hanya bisa menyuarakan
Berjalanpun harus meraba

Semoga saja
Malam kelam segera sudah
Hingga kulihat lagi malam yang indah

Indahnya kilau lampu bercahaya
This entry was posted in :
Berteman Kesakitan
Aku di sini
Terbelenggu dalam sepi
Serupa dengan orang mati
Namun mataku belum terkunci

Sporadis air mataku habis
Ditelan penyakitku yang sadis
Di saat ku tak meringis
Masih adakah seseorang yang menangis?

Tuhan..
Jika masaku masih tersimpan
Berilah daku kesempatan
Tuk meraih Ramadan
Bulan yang penuh kerahmatan

Oh Tuhan Yang Maha Pemberi
Berikanlah daku rezeki
Angkatlah penyakitku ini
Bawa pergi!
Biar tak menggerogoti ragaku  lagi

Wahai Tuhanku
Maafkan daku
Terkadang tak tunduk pada perintah-Mu
Terkadang ku berlaku keliru

Kini ku hanya tertunduk lesu
Bersama penyakit-penyakitku
Seraya memohon kepada-Mu
Semoga terlintas keajaiban dalam uripku

Puisi : Berteman Kesakitan

Berteman Kesakitan
Aku di sini
Terbelenggu dalam sepi
Serupa dengan orang mati
Namun mataku belum terkunci

Sporadis air mataku habis
Ditelan penyakitku yang sadis
Di saat ku tak meringis
Masih adakah seseorang yang menangis?

Tuhan..
Jika masaku masih tersimpan
Berilah daku kesempatan
Tuk meraih Ramadan
Bulan yang penuh kerahmatan

Oh Tuhan Yang Maha Pemberi
Berikanlah daku rezeki
Angkatlah penyakitku ini
Bawa pergi!
Biar tak menggerogoti ragaku  lagi

Wahai Tuhanku
Maafkan daku
Terkadang tak tunduk pada perintah-Mu
Terkadang ku berlaku keliru

Kini ku hanya tertunduk lesu
Bersama penyakit-penyakitku
Seraya memohon kepada-Mu
Semoga terlintas keajaiban dalam uripku

This entry was posted in :
Di Sudut Taman Kota
Oleh: Rafi Ferliadi

Di sudut taman kota
Gerak gerik para durja
Tingkah ayunan berdansa
Bersuka cita

Di atas mungilnya rerumputan
Sang bintang berjempalitan
Memburuku
Dengan lucu

Bintangku sayang
Masih adakah memori yang bersemayam?
Tentang kebersamaan silam
Apa sudah tenggelam?

Oh, daku terlena
Kau bukan bintang kecil semula
Yang menemaniku bersepeda
Di sudut taman kota

Bintang, jangan memaksa dirimu sendiri
‘tuk bangunkan seisi memori
Biarlah taman kota menjadi saksi
Biarlah ayunan usang sebagai alasan
Rangkaian kisah kebersamaan
Saat kita serupa bintang ingusan
Di sudut taman kota



Puisi : Di Sudut Taman Kota

Di Sudut Taman Kota
Oleh: Rafi Ferliadi

Di sudut taman kota
Gerak gerik para durja
Tingkah ayunan berdansa
Bersuka cita

Di atas mungilnya rerumputan
Sang bintang berjempalitan
Memburuku
Dengan lucu

Bintangku sayang
Masih adakah memori yang bersemayam?
Tentang kebersamaan silam
Apa sudah tenggelam?

Oh, daku terlena
Kau bukan bintang kecil semula
Yang menemaniku bersepeda
Di sudut taman kota

Bintang, jangan memaksa dirimu sendiri
‘tuk bangunkan seisi memori
Biarlah taman kota menjadi saksi
Biarlah ayunan usang sebagai alasan
Rangkaian kisah kebersamaan
Saat kita serupa bintang ingusan
Di sudut taman kota



This entry was posted in :

Tuesday, May 6, 2014

Manusia di Belakang Debu [ A Man Behind the Dust ]
Rafi Ferliadi

Manusia di belakang debu
Kau bekerja dalam kelabu
Mengais rezeki di kosmos ini
Sesekali kau pasang muka pasi
Bukan tuk mengundang iba
Tapi lantaran sisi baya
Yang sudah tak seharusnya

Manusia di belakang debu
Meski pakaian compang camping
Tapi hatimu tak akan miring
Gairahmu yang menggebu tak ada banding

Manusia dibelakang debu
Aroma yang tak lagi sedap
Sembulan para asap
Raja siang enggan terlelap
Itu semua resiko biadab

Manusia di belakang debu
Kau pegang senjata panjangmu itu
Sambil membawa keranjang bambu
Yang kau panggul di punggungmu

Manusia di belakang debu
Hasil yang tak tentu
Kau tak mau tahu
Asal dapat menghidupi dinastimu

Jangan liat gambarnya karena tidak sesuai ilustrasi.Seharusnya adalah gambar lelaki tua.




Manusia di Belakang Debu [ A Man Behind the Dust ]

Manusia di Belakang Debu [ A Man Behind the Dust ]
Rafi Ferliadi

Manusia di belakang debu
Kau bekerja dalam kelabu
Mengais rezeki di kosmos ini
Sesekali kau pasang muka pasi
Bukan tuk mengundang iba
Tapi lantaran sisi baya
Yang sudah tak seharusnya

Manusia di belakang debu
Meski pakaian compang camping
Tapi hatimu tak akan miring
Gairahmu yang menggebu tak ada banding

Manusia dibelakang debu
Aroma yang tak lagi sedap
Sembulan para asap
Raja siang enggan terlelap
Itu semua resiko biadab

Manusia di belakang debu
Kau pegang senjata panjangmu itu
Sambil membawa keranjang bambu
Yang kau panggul di punggungmu

Manusia di belakang debu
Hasil yang tak tentu
Kau tak mau tahu
Asal dapat menghidupi dinastimu

Jangan liat gambarnya karena tidak sesuai ilustrasi.Seharusnya adalah gambar lelaki tua.




This entry was posted in :

Thursday, May 1, 2014

Aku
Oleh : Rafi Ferliadi


Aku….
                        Inilah diriku
                                    Yang tak banyak tau
                                                Tentang jalan hidupku
                                               
                                                Tiap hari kukayuh sepeda
Untuk pergi ke rumah kedua
Disitulah tempatnya
Tempat meraih asa

Tapi apa daya
Daku tlah berusaha
Kenyataannya seperti ini
Membuatku kecil hati

Sebuah Tugas Puisi " AKU"

Aku
Oleh : Rafi Ferliadi


Aku….
                        Inilah diriku
                                    Yang tak banyak tau
                                                Tentang jalan hidupku
                                               
                                                Tiap hari kukayuh sepeda
Untuk pergi ke rumah kedua
Disitulah tempatnya
Tempat meraih asa

Tapi apa daya
Daku tlah berusaha
Kenyataannya seperti ini
Membuatku kecil hati
This entry was posted in :
Syukurlah
Oleh: Rafi Ferliadi

Syukurlah
Jantungku masih berdetak
Tuk melengkapi hidupku yang hampir retak
Walau tak seceria katak melompat

Syukurlah
Aku bisa melirik sang surya
Walau tak seperti biasa
Engkau tampak malu - malu
Memperlihatkan wajah manismu

Syukurlah
Aku masih berjumpa dengan dua malaikat
Kusayangi dan kukasihi
Memberikan hatiku ini 
Sampai nanti

Syukurlah
Aku masih melihat dunia
Menapak jejak
Menempa perak
Hingga menjadi bintang
Menyinari angkasa



Syukurlah

Syukurlah
Oleh: Rafi Ferliadi

Syukurlah
Jantungku masih berdetak
Tuk melengkapi hidupku yang hampir retak
Walau tak seceria katak melompat

Syukurlah
Aku bisa melirik sang surya
Walau tak seperti biasa
Engkau tampak malu - malu
Memperlihatkan wajah manismu

Syukurlah
Aku masih berjumpa dengan dua malaikat
Kusayangi dan kukasihi
Memberikan hatiku ini 
Sampai nanti

Syukurlah
Aku masih melihat dunia
Menapak jejak
Menempa perak
Hingga menjadi bintang
Menyinari angkasa



This entry was posted in :
Malam Imajinasi
Oleh:Rafi Ferliadi

Saat mulut enggan berkata
Hanya diam seakan lupa
Dia itu bisa berbicara
Bahkan berekspresi

Mulutku menguap sudah
Mataku berkaca kaca
Sesekali air mata jatuh juga
Mengiringi malam yang indah

Aku sudah ada di hutan kapuk
Hingga ada yang kupeluk
Aroma obat nyamuk
Yang biasa menusuk
Tidak lagi ada,kantuk..

Bersiap dan hati hati
Menuju dunia fantasi
Dunia yang penuh imajinasi
Untuk diceritakan esok hari


Malam Imajinasi

Malam Imajinasi
Oleh:Rafi Ferliadi

Saat mulut enggan berkata
Hanya diam seakan lupa
Dia itu bisa berbicara
Bahkan berekspresi

Mulutku menguap sudah
Mataku berkaca kaca
Sesekali air mata jatuh juga
Mengiringi malam yang indah

Aku sudah ada di hutan kapuk
Hingga ada yang kupeluk
Aroma obat nyamuk
Yang biasa menusuk
Tidak lagi ada,kantuk..

Bersiap dan hati hati
Menuju dunia fantasi
Dunia yang penuh imajinasi
Untuk diceritakan esok hari


This entry was posted in :
SembilanIX
Oleh:Rafi Ferliadi

Ketika Februari hendak menengah
Itu waktunya
Melepas semua rasa 
Bergurau ria di Pulau Dewata

Matamu tak perlu melotot
Tak perlu juga berkacak pinggang
Sambil mengangkat kamera
Karena kamu bukan siapa siapa
Yang melepas penat
di pulau orang

Ketika Maret berlabuh
Tiada lagi kata "Aduh"
Harusnya kamu sungguh sungguh
Siapkan semua dengan tangguh

Sembilan

SembilanIX
Oleh:Rafi Ferliadi

Ketika Februari hendak menengah
Itu waktunya
Melepas semua rasa 
Bergurau ria di Pulau Dewata

Matamu tak perlu melotot
Tak perlu juga berkacak pinggang
Sambil mengangkat kamera
Karena kamu bukan siapa siapa
Yang melepas penat
di pulau orang

Ketika Maret berlabuh
Tiada lagi kata "Aduh"
Harusnya kamu sungguh sungguh
Siapkan semua dengan tangguh

This entry was posted in :